Sepenggal Pengalaman Traveling Minim Budget di Tiga Negara Eropa Barat

Awal Mei 2019 lalu, saya plesir ke tiga negara di Eropa: Austria, Jerman, dan Belanda. Dari ketiga negara tersebut, saya mengunjungi Vienna dan Salzburg di Austria; Freiburg dan Ulm di Jerman; lalu Nijmegen, Amersfoort, dan Giethoorn di Belanda. Semua saya tempuh selama 10 hari saja. Sebenarnya, ini waktu yang sangat singkat tetapi saya juga memperhitungkan tabungan yang tersisa di kantong (dan tabungannya juga cukup untuk 10 hari saja sih, hahaha). Bagaimana cara berhemat saat traveling?

Ketika melakukan perjalanan 10 hari tersebut, saya menyediakan uang sekitar 300 Euro untuk transportasi dan makan (hasil menabung). Saya pesan hostel 6 bulan sebelum berangkat agar mendapat harga lebih murah dan saya juga menginap di rumah kerabat/sahabat. Menggunakan hostel juga harus dipikirkan daripada menggunakan Air BnB..kalau bisa malah couch surfing sekalian. Oiya, ketika melakukan solo traveling ini, saya berangkat dari Kristiansand, Norwegia, bukan dari Indonesia. Tahun lalu hingga awal bulan ini saya sempat berkuliah di Kristiansand. Tapi, cara berhemat ini menurut saya bisa diterapkan di manapun.

Saat solo traveling, saya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain bahkan lintas negara. Saya banyak menggunakan transportasi kereta dan bus. Ini adalah salah satu hal yang menyenangkan ketika traveling di Eropa daratan. Lalu, saya memang sengaja tidak traveling di kota besar (kecuali Vienna), ini salah satu keuntungan juga karena tempatnya tidak touristy.

Memilih jalur kereta dan bus termasuk cara berhemat, tetapi kerugiannya ada di waktu. Walau begitu, saya selalu menikmati perjalanan. Lagipula, kota-kota yang saya tuju kecuali Vienna, agak jauh dari bandara. Flix bus menjadi andalan saya ketika transportasi menggunakan kereta terkadang lebih mahal. Kekurangan Flix bus adalah kurang tepat waktu karena ada kendala seperti terjebak macet lalu lintas.

Saat uang mepet, mau tidak mau saya berkompromi dengan pilihan yang tidak menguras uang, salah satunya memilih tempat yang minim dikunjungi turis. Saya menghindari paket-paket wisata karena biayanya lebih mahal. Ke taman kota, hiking tipis-tipis di bukit/hutan kota terdekat, atau jalan-jalan di sekitar kota tua sudah cukup untuk saya.

Untuk transportasi di dalam kota, saya mengandalkan aplikasi transportasi. Sebelum berjalan-jalan, saya mencari tahu terlebih dahulu lewat Google, aplikasi yang digunakan untuk membeli tiket transportasi di dalam kota. Semua aplikasi transportasi di Eropa sudah ada di Google Play Store (berasa brand ambassador Google deh..)

Kalau nyasar? Ada Google Map atau bisa tanya orang di jalan. Selain itu, saya juga lebih suka berjalan. Kalau lelah, cari taman kota terdekat untuk duduk dan minum. Lagi pula, di negara-negara Eropa Barat fasilitas publiknya, seperti bangku, disediakan di berbagai tempat.

img-20190519-wa0068
Jalan-jalan di Ulm

Soal keamanan? Di kota-kota besar seperti Vienna, saya selalu ekstra berhati-hati. Teman saya pernah kecopetan di kota ini. Salah satu hal yang saya lakukan adalah bagaimana agar tidak terlalu mencolok sebagai turis (nah lho). Kecuali, jika kita memang datang rombongan lebih dari 3 orang dan pakai tour guide, kita jelas terlihat seperti turis.

lrm_export_205959953107420_20190518_144701178
Pemandangan dari hutan kota di Salzburg

Tentunya, saat traveling kita ingin banyak mengambil foto. Jika ingin mengambil gambar menggunakan HP, saya selalu melihat keadaan sekitar dulu. Kalau di tengah-tengah keramaian, saya usahakan untuk menepi dan mengusahakan tidak terlalu mencolok membidik objek foto. Ini salah satu cara agar tidak menarik perhatian di kota-kota besar: sudahlah duit mepet, kecopetan pula..double kill..

Ketika traveling, saya juga tidak makan di restoran yang dekat tempat wisata, karena harga bisa lebih mahal. Saya akan memilih membeli makan di swalayan lokal atau jika ada universitas di sana, saya akan ke kantinnya. Maklum, masih mahasiswa..hehe..

img-20190519-wa0000
Menikmati sore di Nijmegen. Kapal-kapal ini ada yang kafe dan hostel. Saya ke salah satu kapal yang ada kafe-nya

Semua hal di atas saya lakukan kecuali di Giethoorn. Penduduk setempat sebenarnya “chill” dan cuek dengan adanya turis, tapi karena sudah menjadi industri, segala restoran dan transportasi menggunakan kapal jadi mahal, terutama untuk kantong mahasiswa. Di Giethoorn, saya memilih berjalan kaki menyusuri kanal dari pada naik kapal. Lumayan berhemat.

Singkatnya, solo traveling di Eropa Barat itu mudah dan aman, tetapi juga perlu hati-hati di manapun dan kapanpun. Selain itu, saya juga belajar mengambil keputusan agar tidak kalap berbelanja dan dapat mengatur uang. Saya justru menikmati memperhatikan turis-turis yang lain dan penduduk sekitar. Mungkin karena sudah kebiasaan observasi (yhaa). Jika suatu saat ada kesempatan, saya tentu ingin keliling Eropa lagi.. đŸ™‚

Iklan

2 tanggapan untuk “Sepenggal Pengalaman Traveling Minim Budget di Tiga Negara Eropa Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s